- 0
- 284 words
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) selama perang Iran, di mana ia melakukan pertemuan dengan Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ). Kunjungan ini, yang terjadi pada 26 Maret, merupakan pertemuan pertama yang dikonfirmasi antara kedua pemimpin.
Dalam pernyataan resmi dari kantor Netanyahu, disebutkan bahwa pertemuan ini menghasilkan “terobosan bersejarah” dalam hubungan antara Israel dan UEA. Sumber yang mengetahui pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa pertemuan berlangsung di kota Al-Ain, sebuah oasis yang terletak dekat perbatasan Oman, dan berlangsung selama beberapa jam.
Sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa Kepala Mossad, Dedi Barnea, telah melakukan setidaknya dua kunjungan ke UEA selama perang dengan Iran untuk mengkoordinasikan tindakan militer. Kunjungan kepala intelijen ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal.
Setelah mengalami serangan selama perang Iran, UEA telah memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel, yang mana keduanya membuka hubungan resmi dalam perjanjian Abraham pada tahun 2020. UEA memandang hubungan ini sebagai alat untuk meningkatkan pengaruh regional dan saluran unik untuk berhubungan dengan Washington.
Pada saat yang sama, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan bahwa Israel telah mengirimkan baterai untuk sistem intersepsi Iron Dome beserta personel untuk mengoperasikannya ke UEA selama perang tersebut. Dukungan ini menunjukkan komitmen Israel untuk memperkuat keamanan UEA di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan.
Hubungan strategis antara Israel dan UEA, yang semakin berkembang pasca-perjanjian Abraham, menyediakan konteks penting bagi Indonesia, yang juga menghadapi tantangan geopolitik serupa. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, perlu memperhatikan dampak dari hubungan ini terhadap stabilitas regional dan keamanan nasionalnya.