- 0
- 305 words
Keputusan yang mengejutkan terjadi dalam pertandingan antara Prancis dan Senegal ketika Kylian Mbappe terjatuh di dalam kotak penalti setelah dilanggar oleh Sadio Mane pada menit ke-58. Pertandingan yang berlangsung di New York New Jersey Stadium itu tanpa gol saat wasit Alireza Faghani diperintahkan untuk memeriksa tayangan ulang di monitor pinggir lapangan.
Setelah meneliti insiden tersebut, Faghani tampak menunjuk ke titik penalti, yang mengundang sorak sorai dari ribuan pendukung Prancis di stadion. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama, karena wasit tersebut sebenarnya memberi isyarat untuk tendangan gawang, dengan penjelasan bahwa Mbappe-lah yang memulai kontak tersebut.
Darren Cann, asistem wasit final Piala Dunia 2010, mengungkapkan kekecewaannya di BBC One, menyatakan bahwa ponselnya dipenuhi pesan dari banyak wasit terbaik dunia yang juga tidak memahami mengapa penalti tidak diberikan. Mantan pemain sayap Skotlandia, Pat Nevin, yang hadir di pertandingan untuk BBC Radio 5 Live, menyebut keputusan itu sebagai ‘keputusan buruk’.
“Sangat tidak masuk akal,” tambah Nevin dengan nada skeptis. “Bagaimana mungkin dia [Mbappe] yang memulai kontak? Ini adalah pernyataan yang paling tidak masuk akal yang pernah saya dengar.”
Alan Shearer, mantan kapten Inggris yang juga hadir di acara BBC One, menyebut keputusan tidak memberikan penalti itu sebagai ‘aneh’. “Saya tidak mengerti,” ungkap Shearer. “Anda bisa melihat luncuran dari Mane dan kaki kirinya mengenai Mbappe. Bagaimana Mbappe bisa memulai kontak jika ia berdiri di depan Mane? Ini benar-benar aneh.”
Insiden ini menimbulkan banyak perdebatan di kalangan penggemar sepak bola, terutama di Indonesia yang mengikuti perkembangan liga-liga Eropa dan Piala Dunia. Keputusan VAR ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi berusaha untuk meningkatkan keadilan dalam permainan, hasilnya tidak selalu sesuai harapan, dan seringkali masih menimbulkan kontroversi yang memicu diskusi di kalangan penggemar dan analis.