- 0
- 584 words
Penyakit kardiovaskular tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Meskipun kehadiran dokter, rumah sakit, dan teknologi medis sangat penting, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menegaskan bahwa tantangan yang tak kalah penting adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri. Hal ini bertujuan agar pasien tidak lagi memilih untuk berobat ke luar negeri.
Ketua Pengurus Pusat PERKI, Ade Meidian Ambari, menjelaskan bahwa perhatian publik selama ini lebih banyak terfokus pada kasus sengketa antara dokter dan pasien, sementara keberhasilan dokter Indonesia dalam menangani kasus-kasus kompleks sering kali luput dari sorotan. Ia menegaskan bahwa kompetensi dokter spesialis jantung di Indonesia tidak kalah dengan dokter di negara lain.
Dalam perbandingan dengan Singapura, yang memiliki jumlah pasien lebih sedikit, Ade mengungkapkan bahwa tingginya angka pasien di Indonesia justru memberikan lebih banyak pengalaman klinis bagi dokter. Ia menambahkan, meskipun dokter di Singapura lebih dikenal karena banyaknya publikasi ilmiah, dokter Indonesia juga memiliki kapabilitas yang mumpuni.
Sebagai catatan, Ade mengakui bahwa membangun kepercayaan masyarakat adalah proses yang memerlukan waktu. Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah jumlah dokter spesialis jantung yang masih terbatas dan distribusinya yang belum merata. Saat ini, terdapat sekitar 2.200 dokter spesialis jantung, dengan hanya sekitar 1.600 yang aktif memberikan pelayanan. Sekitar 60 persen dari mereka berada di Pulau Jawa dan Sumatera, sedangkan 40 persen kabupaten/kota di Indonesia masih kekurangan akses terhadap layanan dokter spesialis jantung.
PERKI bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan serta kolegium untuk mendukung penempatan dokter spesialis di daerah dengan fasilitas yang memadai. Hal ini penting mengingat dokter tidak dapat memberikan pelayanan yang optimal tanpa peralatan dasar yang diperlukan. Selain itu, penguatan sistem pembiayaan juga merupakan langkah krusial untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Di sisi lain, Ade menyadari adanya perbedaan kualitas layanan antara rumah sakit di Indonesia dan negara-negara tujuan berobat seperti Singapura. Dari pengalamannya, pelayanan di rumah sakit Singapura sangat memperhatikan kenyamanan dan pengalaman pasien, mulai dari kedatangan hingga kepulangan pasca perawatan. Ia tidak menampik bahwa aspek service excellence tersebut perlu dipelajari dan dikembangkan di Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa prioritas utama sistem pelayanan kesehatan nasional tetap terfokus pada layanan gawat darurat yang bersifat menyelamatkan nyawa. Peningkatan kualitas layanan dan teknologi kesehatan akan terus dilakukan secara bertahap setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi.
Sementara itu, Ketua Kolegium Kardiologi Indonesia, Renan Sukmawan, menegaskan bahwa kompetensi dokter spesialis jantung di Indonesia telah disusun berdasarkan standar yang setara dengan negara lain. Dokter yang ingin mengkhususkan diri dalam bidang tertentu, seperti intervensi jantung, aritmia, atau jantung anak, diwajibkan mengikuti pendidikan lanjutan (fellowship) selama satu hingga dua tahun sebelum memperoleh kompetensi subspesialis. Renan menambahkan bahwa kompetensi dokter jantung di Indonesia setara dengan dokter jantung di Amerika pada level spesialis.
Kolegium juga bertanggung jawab dalam menyusun standar kompetensi, menentukan kurikulum pendidikan, dan menguji dokter sebelum mereka mendapatkan sertifikat kompetensi untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menyatakan bahwa BPJS telah menjalin kerja sama dengan sekitar 3.200 rumah sakit, 3.000 klinik, serta 241 laboratorium kateterisasi jantung (cath lab) di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat, mengingat sekitar 260 cath lab lainnya masih dalam proses kerja sama.
Kementerian Kesehatan juga memiliki program untuk memastikan setidaknya satu cath lab hadir di setiap kabupaten. Prihati melanjutkan bahwa hampir seluruh layanan berteknologi tinggi telah dijamin oleh BPJS Kesehatan, mulai dari layanan cath lab, radioterapi, kedokteran nuklir, kemoterapi, hingga hemodialisis. Namun, pengenalan teknologi baru tetap memerlukan perhatian khusus untuk meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia.